2.1 Perkembangan Pondok Pesantren di Indonesia
Perkembangan pondok pesantren di nusantara berdasarkan bukti sejarah dapat disimpulkan bahwa pondok pesantren mulai dikenal di nusantara pada periode abad ke-13-17 M dan di Jawa pada abad ke-15-16 M. tumbuh dan berkembangnya pondok pesantren di Indonesia seiring dengan masuknya Islam di Indonesia melalui para mubaligh yang datang ke Indonesia (Muttaqien, 1999).
Adapun tokoh yang pertama mendirikan pondok pesantren adalah Syekh Maulana Malik Ibrahim atau lebih dikenal dengan sebutan “Sunan Gresik” (wafat 1419 M) yakni seorang tokoh yang berasal dari Gujarat India yang menjadi tokoh pertama dan memiliki peranan penting dalam penyebaran Islam di Jawa. Dalam penyebaran dakwahnya Syekh Maulana Malik Ibrahim menjadikan pesantren dan masjid sebagai pusat penyebaran keilmuan Islam. Upaya yang dilakukan Syekh Maulana Malik Ibrahim ini menjadi awal mula lahirnya pondok pesantren lainnya seperti lahirnya pesantren pertama di Kembangkuning Surabaya pada tahun 1619 yang didirikan oleh Raden Rahmad (sunan Ampel). Kemudian berdirilah berbagai pondok pesantren di daerah lainnya seperti Sunan Giri di Gresik, Sunan Bonang di Tuban, sunan Derajat di Lamongan dan Raden Fatah di Demak Jawa Tengah (Musthofa. 2015).
Selanjutnya perkembangan pondok pesantren masa kolonial,pada masa itu pondok pesantren adalah lembaga yang paling banyak berhubungan dengan masyarakat, maka tidak berlebihan jika pondok pesantren menjadi lembaga pendidikan yang “mengakar” dan sangat menyatu dengan kehidupan masyarakat, walaupun pemerintahan kolonial Belanda menganggap sistem pendidikan Islam sangat jelek, mereka menganggap metode dan bahasa (Arab) yang digunakan sulit untuk diajarkan dan dimasukan ke dalam perencanaan pendidikan umum pada masa pemerintahan kolonial, selain itu juga tujuan pendidikan yang dianggap tidak berkaitan dengan kehidupan dunia (Muttaqien, 1999).
Namun demikian pondok pesantren pada masa perjuangan kemerdekaan memiliki andil dalam perjuangan kemerdekaan melalui pendidikan yang mencerdaskan rakyat Indonesia (Nawawi, 2006).
2.5 Perkembangan Pondok Pesantren di Sumatera Selatan
Perkembangan pendidikan Islam di Sumatera Selatan mengalami momentum kebangkitan pada tahun 1925 setelah munculnya lembaga pendidikan Islam dalam bentuk yang benar-benar klasikal dalam konsep modern yang diawali berdirinya Madrasah Diniyah Aliyah di Kampung 28 Ilir. Madrasah ini didirikan oleh “Perkumpulan Dagang Islam Palembang” yang memiliki peranan penting dalam mensponsori pembangunan Madrasah secara financial, walaupun dalam praktinya Madrasah ini mengandalkan firma H. Akil (serikat dagang antara beberapa perusahaan) yakni suatu perusahaan perdagangan kopi dan karet di Palembang. Sekolah ini menyelenggarakan jenjang pendidikan untuk sekolah tingkat dasar dan menengah (Tsanawiyah) sejak awal berdirinya hingga saat ini
Kemudian ada madrasah Qur’aniyah yang cikal bakalnya mulai ada pada tahun 1924, madrasah ini mengalami perkembangan sejak awal berdirinya 1924 sampai tahun 1955. Tahun 1930-an munculah berbagai lembaga pendidikan Islam lainnya di berbagai wilayah Sumatera Selatan diantaranya : Madrasah Nurul Falah, Perguruan Muhammadiyah, Madrasah Darul Funun dan Madrasah Ma’had Islami merupakan beberapa lembaga pendidikan yang muncul di kota Palembang (Seno & Hasanadi, 2014: 8-10).
Adapun lembaga pendidikan Islam lainnya di adalah Pondok Pesantren Nurul Islam yang didirikan pada tahun 1932 oleh KH. Anwar bin Haji Kumpul. Didirikannya pondok pesantren ini karena adanya dorongan dari masyarakat setempat yang mengharapkan adanya pendidikan Islam yang berbentuk sekolah untuk mendidik dan membimbing para santri agar menjadi manusia Muslim yang berilmu beriman dan beramal soleh serta berakhlak mulia (DEPDIKBUD Palembang, 1985: 51). Itulah beberapa lembaga pendidikan Islam yang ada wilayah Sumatera Selatan yang menjadi cikal bakal tumbuh dan berkembangnya lembaga pendidikan Islam di wilayah Sumatera Selatan lainnya.
2.6 Kondisi Awal Berdirinya Pondok Pesantren Assalam Al-Islamy
Sebelum Pondok Pesantren Assalam Al-Islamy berdiri pada tahun 1987, sebenarnya telah ada Pondok Pesantren “Nafaul Huda Salafiyah” yang di pimpin oleh Zein Ahmad yang bertempat di lokasi Pondok Pesantren Assalam Al-Islamy saat ini. Namun akhirnya pesantren tersebut tutup sekitar satu tahun sebelum Pondok Pesantren Assalam Al-Islamy berdiri. Pesantren pimpinan Zein Ahmad tersebut ditutup dikarenakan hubungan yang kurang baik dengan masyarakat sekitar karena pesantren tersebut diduga tidak sesuai dengan syariat Islam karena mengadakan “pengobatan-pengobatan” yang tidak sesuai syariat Islam atau dapat dikatakan “perdukunan”. Oleh karena itu akhirnya pesantren tersebut ditutup dan di bangunlah Pondok Pesantren Assalam Al-Islamy yang masih bertahan hingga saat ini (Wawancara Ustadz Saiful Hidayat, 28 Mei 2018).
Pondok Pesantren Assalam Al-Islamy ini didirikan pada 10 Juni 1987 oleh seorang ustadz dari Lampung bernama KH. Masrur Musir, berdirinya Pondok Pesantren Assalam Al-Islamy ini pada mulanya adalah atas prakarsa dari Abdullah Mukiran seorang pedagang bibit tanaman sekaligus orangtua santri di pondok pesantren modern Darussalam Lampung, beliau menawarkan untuk membuka pesantren di daerahnya yaitu Sungai Lilin kepada KH. Masrur Musir selaku guru pesantren modern Darrusalam Lampung, namun KH. Masrur Musir kurang tertarik dengan tawaran tersebut dikarenakan beliau masih ingin melanjutkan pendidikannya. Akan tetapi Abdullah Mukiran tidak menyerah dan terus meminta kepada KH. Masrur Musir agar dapat mewujudkan impiannya tersebut bahkan beliau berencana menghibahkan tanah seluas dua hektar guna membagun pesantren tersebut. Melihat kegigihan dan keseriusan beliau, akhirnya KH. Masrur Musir pun luluh dan bersedia menerima tawaran tersebut ditambah lagi KH. Masrur Musir juga mendapat dukungan dari kakaknya KH. Abdul Malik Musir, untuk menerima tawaran tersebut. Maka untuk merealisasikan niat baik itu, dilakukanlah survei lokasi dan bertemu para tokoh dan masyarakat Kecamatan Sungai Lilin untuk segera mendirikan Pondok Pesantren Assalam Al-Islamy tersebut (Profil Pondok Pesantren Assalam Al-Islamy, 2016).
Pondok Pesantren Assalam Al-Islamy ini mulai mengalami perkembangan yang cukup signifikan sejak 1990, dikarenakan pada tahun-tahun inilah Pondok Pesantren Assalam mendapat bantuan signifikan dari berbagai pihak, diantaranya pembangunan asrama santri yang merupakan bantuan dari menteri kehutanan saat itu, kemudian pembangunan jalan aspal di area pesantren bantuan dari Bupati Kabupaten Musi Banyuasin saat itu (Ihsanudin, 2015: 5). Setelah mendapatkan bantuan 6 (enam) unit asrama santri dari Pemda Tingkat II Kabupaten Musi Banyuasin dan Mentri Kehutanan pada tahun 1990, dua tahun kemudian Pondok tepatnya pada tahun 1992 Pondok Pesantren Assalam Al-Islamy kembali mendapatkan bantuan, kali ini dari pemerintahan Emirat Arab yakni pembangunan sebuah masjid (Profil Pondok Pesantren Assalam Al-Islamy, 2016).
Seiring dengan perkembangan sarana dan prasarana tersebut santri-santri yang berasal dari berbagai daerah mulai berdatangan, tercatat saat itu santri yang dari dari daerah seperti Aceh, Riau, Jambi, Lampung dan Bangka, selain dari wilayah-wilayah di Sumatera Selatan tentunya, tidak hanya santri, tenaga pendidik pun juga mulai di datangkan dari berbagai pesantren di Sumatera dan Jawa, seperti pondok Pesantren Darussalam Lampung, Darul Qalam Tangerang, Gontor dan Wali Songo di Ponorogo. Makin lengkap ditambah dengan datangnya seorang ustadz karismatik yang menjadi tokoh sentral dalam pengembangan Pesantren Darussalam Lampung, KH. Abdul Malik Musir, Lc. Dengan demikian, lengkaplah sudah Assalam Al-Islamy dipenuhi oleh santri-santri yang berasal dari berbagai daerah yang haus akan ilmu pengetahuan serta para tenaga pendidik yang mumpuni dari lembaga-lembaga pendidikan yang berkualitas dan berkompeten dibidangnya (Profil Pondok Pesantren Assalam Al-Islamy, 2016).
2.7 Situasi dan Kondisi Desa Sri Gunung
2.7.1 Kondisi Geografi
Desa Sri Gunung adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin. Desa Sri Gunung merupakan Desa tertua di Kecamatan Sungai Lilin dan sering juga disebut dengan “Desa asli”. Pada awalnya Sri Gunung bukanlah sebuah Desa akan tetapi hanya berupa pemukiman yang di huni oleh beberapa orang penduduk saja yang selalu berpindah-pindah atau tidak menetap. Hingga akhirnya sekitar tahun 1961 atas usulan beberapa kelompok masyarakat yang ada maka dibentuklah sebuah dusun yang diberi nama dusun Sri Gunung yang saat itu di pimpin oleh seorang Punggawa. Seiring dengan pertumbuhan penduduk, maka pada tahun 1973 Sri Gunung menjadi sebuah Desa yang di pimpin oleh seorang Kerio.
Desa Sri Gunung memiliki luas wilayah 79, 47 Km2 yang berjarak kurang lebih 10 kilometer dari Ibu Kota Kecamatan.
Secara geografis Desa Sri Gunung di sebelah Utara berbatasan dengan wilayah Desa Nusa Serasan, Linggosari, Mulyorejo, Panca Tunggal, dan Desa Bumi Kencana. Di sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Sri Damai & Keluang. Di sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Sungai Lilin Jaya dan di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Peninggalan. Adapun dari segi topografi dan ketinggiannya desa Sri Gunung termasuk dalam kategori wilayah dataran rendah tidak berbukit yang beriklim tropis dan dialiri sungai dan rawa-rawa (Profil Desa Sri Gunung Kecamatan Sungai Lilin, 2017).
Secara administratif desa Sri Gunung termasuk ke dalam 13 wilayah desa dan 2 (dua) kelurahan yang ada di Kecamatan Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin. Adapun desa/kelurahan yang ada di Kecamatan Sungai Lilin sebanyak 15/kelurahan yakni, Sungai Lilin, Sumber Rezeki, Suka Damai Baru, Cinta Damai, Berlian Makmur, Sri Gunung, Bumi Kencana, Panca Tunggal, Mulyo Rejo, Linggo Sari, Nusa Serasan, Pinang Banjar, Mekar Jadi, Bukit Jaya, dan Sungai Lilin (Statistik Daerah Kecamatan Sungai lilin, 2016: 3).
Kecamatan Sungai Lilin secara umum didominasi oleh wilayah pedesaan dengan jumlah sebanyak 13 desa, termasuk juga Desa Sri Gunung yang menjadi lokasi Pondok Pesantren Assalam Al-Islamy serta 2 (dua) kelurahan yakni kelurahan Sungai Lilin dan Kelurahan Sungai Lilin Jaya. Apabila ditijau dari segi luas wilayahnya secara keseluruhan Kecamatan Sungai Lilin memiliki luas wilayah sebesar 374, 26 kilometer persegi dengan batasan wilayah sebelah utara Kecamatan Bayung Lencir, sebelah selatan kecamatan Babat Supat, sebelah timur, Kabupaten Banyuasin, sebelah barat Kecamatan Keluang.
Adapun secara umum desa Sri Gunung secara umum merupakan bagian dari Kabupaten Musi Banyuasin yang letaknya diapit oleh Provinsi Jambi di sebelah utara, Kabupaten Muara Enim di sebelah selatan, Kabupaten Musi Rawas di sebelah barat, dan Kabupaten Banyuasin di sebelah timur. Luas wilayah 14. 265, 96 km2 atau sekitar 15% dari luas Provinsi Sumatera Selatan terletak di antara 1, 3o sampai dengan 4o Lintang Selatan dan 103o sampai dengan 105o45’ Bujur Timur. Musi Banyuasin di sebelah utara berbatasan dengan Provinsi Jambi, sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Muara Enim, sementara itu di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Musi Rawas dan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Banyuasin. Wilayah Kabupaten Musi Banyuasin terdiri dari 14 kecamatan dan 240 desa/kelurahan. (Statistik Daerah Kabupaten Musi Banyuasin, 2016: 1)
2.7.2 Kondisi Demografi
Desa Sri Gunung memiliki jumlah penduduk sebesar 6.633 jiwa dan dengan kepadatan penduduk sebesar 92, 39 per Km². Dari 13 desa dan 2 kelurahan yang ada di Kecamatan Sungai Lilin desa Sri Gunung menjadi desa dengan kepadatan penduduk paling rendah dengan kepadatan penduduk sebesar 92, 39 per Km² tersebut, sementara itu desa dengan tingkat kepadatan penduduk paling tinggi adalah desa Linggo Sari dengan kepadatan 361.00 per Km² (Statistik Daerah Kecamatan Sungai lilin, 2016: 1).
Adapun Desa Sri Gunung menjadi desa dengan tingkat kepadatan penduduk paling rendah dengan rata-rata penduduk berprofesi sebagai pedangang dan petani (Wawancara Kepala Desa Sri Gunung, 04 Juli, 2018).
Desa Sri Gunung termasuk dalam bagian wilayah Administratif Kecamatan Sungai Lilin yang terdiri dari 13 wilayah desa dan 2 (dua) kelurahan yang mencakup 80 dusun dengan rata-rata jumlah penduduk per dusun sebesar 739, 46 orang. Jumlah penduduk di Kecamatan Sungai Lilin Tahun 2015 (proyeksi penduduk pertengahan tahun 2015) berjumlah 58.417 orang dengan kepadatan penduduk sebesar 156, 09 penduduk per kilometer (Statistik Daerah Kecamatan Sungai lilin, 2016: 1).
Desa Sri Gunung ini merupakan desa yang menjadi lokasi berdirinya pondok pesantren Assalam Al-Islamy yang berjarak kurang lebih 10 km dari pusat ibu kota kecamatan yang dapat ditempuh melalui kendaraan umum maupun kendaraan pribadi karena letaknya yang persis di tepi jalan lintas timur Sumatera sehingga tidak sulit untuk menjangkau lokasi pondok pesantren AssalamAl-Islamy ini.
Komentar
Posting Komentar